Kamis, 14 Mei 2015

Pendidikan Budi Pekerti

Pendidikan Budi Pekerti
1.        Pengertian pendidikan budi pekerti
Menurut Ensiklopedia Pendidikan, budi pekerti diartikan sebagai kesusilaan yang mencakup segi-segi kejiwaan dan perbuatan manusia; sedangkan manusia susila adalah manusia yang sikap lahiriyah dan batiniyahnya sesuai dengan norma etik dan moral. Dalam konteks yang lebih luas, Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (1997) mengartikan istilah budi pekerti sebagai sikap dan prilaku sehari-hari, baik individu, keluarga, masyarakat, maupun bangsa yang mengandung nilai-nilai yang berlaku dan dianut dalam bentuk jati diri, nilai persatuan dan kesatuan, integritas, dan kesinambungan masa depan dalam suatu sistem moral, dan yang menjadi pedoman prilaku manusia Indonesia untuk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan bersumber pada falsafah Pancasila dan diilhami oleh ajaran agama serta budaya Indonesia.
Budi Pekerti terdiri dari budi dan pekerti. Budi adalah alat batin sebagai panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Berbudi berarti mempunyai kebijaksanaan berkelakuan baik. Pekerti adalah perilaku, perangai, tabiat, watak, akhlak dan perbuatan.
Dalam kamus besar Bahasa Indonesi (1989) istilah budi pekerti diartikan sebagi tingkah laku, perangai, akhlak, watak. Budi pekerti dalam Bahasa Arab disebut akhlak dalam kosa kata latin dikenal dengan istilah etika dan dalam Bahasa Inggris disebut ethics.
Senada dengan itu, Balltbang Dikbud (1995) menjelaskan bahwa budi pekerti secara konsepsional adalah budi yang dipekertikan (dioperasionalkan, diaktualisasikan atau dilaksanakan) dalam kehidupan sehari-hari dalam kehidupan pribadi, sekolah, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Budi pekerti ialah perilaku kehidupan sehari-hari dalam bergaul, berkomunikasi, maupun berinteraksi antar sesama manusia maupun dengan penciptanya. Budi pekerti yang kita miliki terdiri dari kebiasaan atau perangai, tabiat dan tingkah laku yang lahir disengaja tidak dibuat-buat dan telah menjadi kebiasaan.
Budi pekerti adalah kehendak jiwa seseorang yang telah menjadi kebiasaan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu yakni perbuatan yang dilakukan dengan kesadaran jiwa, bukan dengan paksaan jiwa, budi Pekerti juga bisa dikatakan sebagai kualitas tingkah laku, ucapan, dan sikap seseorang yang mempunyai nilai utama dalam pandangan seseorang bagaimana ia bertutur kata dan sikap yang baik terhadap seseorang.
Pengertian lain dari budi pekerti yaitu kehendak yang biasa dilakukan atas segala sifat yang tertanam di dalam hati yang menimbulkan kegiatan dengan ringan dan mudah tanpa memerlukan pemikiran sebagai pertimbangan.
Dengan demikian budi pekerti berpangkal dengan hati jiwa atau kehendak kemudian diwujudkan dalam bentuk perbuatan sebagai kegiatan.
Secara umum budi pekerti bearti moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupan ini. Ini adalah tuntutan moral yang paling penting dalam menjalani kehidupan manusia.
Budi pekerti adalah induk dari segala etika, dan tata kerama, tat susila, prilaku baik dalam pergaulan, pekerjaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidkan budi pekerti ditaanam oleh orang tua dan keluarga di rumah, kemudian di sekolah, dan tentu saja dimasyarakat secara langsung.
Dengan banyaknya pengertian budi pekerti yang telah disebut maka kita dalam menjalani kehidupan ini dengan mudah dan arif dalam menerima tuntutan budi pekerti.
Budi pekerti untuk melakukan hal-hal yang patut, baik, dan benar.kalu kita berbudi pekerti maka jalan kehidupan kita paling tidak tentu selamat sehingga kita perlu berkiprah menuju kesuksesan hidup, kerukuna antar sesama dan berada dalam koridor perilaku yang baik.
Sebaliknya kalau kita melanggar prinsip-prinsip budi pekerti maka kita akan mengalami hal yang tidak nyaman,dari sifatnya ringan, seperti tidak disenangi atau dihormati orang lain, sampai kepada hal yang berat sehingga melanggar hukum dan terpidana.



2.      Latar belakang budi pekerti
Sejak usia dini hingga dewasa anak manusia sebaiknya telah memiliki modal budi pekerti, sehingga kita dapat membangun hari depannya menjadikannya sebagai manusia seutuhnya.pendidikan budi pekerti ditanam oleh orang tua dan keluerga di rumah, kemudian sekolah, dan tentu saja dimasyarakat secara langsung.
Moral merupakan nilai tentang baik buruknya kelakuan manusia. Oleh karena itu moral berkaitan dengan nilai terutama nilai afektif.
Akar dari semua tindakan yang jahat dan buruk, tindakan kejahatan, terletak pada hilangnya karakter. Karakter yang kuat adalah sandangan fundamental yang memberikan kemampuan kepada populasi manusia untuk hidup bersama dalam kedamaian serta membentuk dunia yang dipenuhi dengan kebaikan dan kebijakan, yang bebas dari kekerasan dan tindakan-tindakan tidak bermoral.

3.        Makna pendidikan budi pekerti
Secara konsepsional, Pendidikan Budi Pekerti dapat dimaknai sebagai usaha sadar melalui kegiatan bimbingan, pembiasaan, pengajaran dan latihan, serta keteladanan untuk menyiapkan peserta didik menjadi manusia seutuhnya yang berbudi pekerti luhur dalam segenap peranannya di masa yang akan datang. Pendidikan budi pekerti juga merupakan suatu upaya pembentukan, pengembangan, peningkatan, pemeliharaan dan perbaikan perilaku peserta didik agar mau dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara selaras, serasi, seimbang antara lahir-batin, jasmani-rohani, material-spiritual, dan individu-sosial. (Balitbang Puskur, Depdiknas, 2001).
Sedang secara operasional, pendidikan budi pekerti dapat dimaknai sebagai suatu upaya untuk membentuk peserta didik sebagai pribadi seutuhnya yang tercermin dalam kata, perbuatan, sikap, pikiran, perasaan, dan hasil karya berdasarkan nilai-nilai agama serta norma dan moral luhur bangsa Indonesia melalui kegiatan bimbingan, pelatihan dan pengajaran. Tujuannya agar mereka memiliki hati nurani yang bersih, berperangai baik, serta menjaga kesusilaan dalam melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dan terhadap sesama makhluk (Balitbang Puskur, Depdiknas, 2001).
Adapun aspek-aspek yang ingin dicapai dalam pendidikan budi pekerti menurut Haidar (2004) dapat dibagi ke dalam 3 ranah, yaitu: Pertama ranah kognitif, mengisi otak, mengajarinya dari tidak tahu menjadi tahu, dan pada tahap-tahap berikutnya dapat membudayakan akal pikiran, sehingga dia dapat memfungsikan akalnya menjadi kecerdasan intelegensia. Kedua, ranah afektif, yang berkenaan dengan perasaan, emosional, pembentukan sikap di dalam diri pribadi seseorang dengan terbentuknya sikap, simpati, antipati, mencintai, membenci, dan lain sebagainya. Sikap ini semua dapat digolongkan sebagai kecerdasan emosional. Ketiga, psikomotorik, adalah berkenaan dengan tindakan, perbuatan, prilaku, dan seterusnya.

4.      Strategi Implementasi Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah
Secara teknis, penerapan pendidikan budi pekerti di sekolah setidaknya dapat ditempuh melalui empat alternatif strategi secara terpadu. Strategi pertama ialah dengan mengintegrasikan konten kurikulum pendidikan budi pekerti yang telah dirumuskan ke dalam seluruh mata pelajaran yang relevan, terutama mata pelajaran agama, kwarganegaraan, dan bahasa (baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah). Strategi kedua ialah dengan mengintegrasikan pendidikan budi pekerti ke dalam kegiatan sehari-hari di sekolah. Strategi ketiga ialah dengan mengintegrasikan pendidikan budi pekerti ke dalam kegiatan yang diprogramkan atau direncanakan. Dan strategi keempat ialah dengan membangun komunikasi dan kerjasama antara sekolah dengan orang tua peserta didik.

5.      Living Values : an Educational Program (LVEP)
LVEP adalah program pendidikan nilai yang komprehendif, yang memperhatikan kebutuhan anak-anak, remaja, dan dewas muda saat ini. Model teori LVEP mendorong terciptanya suatu suasana berbasis nilai dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas pendidikan untuk manusia secara utuh yang penuh dengan perhatian, penghargaan, positif, dan aman bagi perkembangan untuk belajar. ( Christopher Drake, 2002:6 )
LVEP memperkenalkan dua belas nilai universal: Cinta, Damai, Penghargaan, Tanggung jawab, Kerja sama, Kebebasan, Kebahagiaan, Kejujuran, Kerendahan hati, Kesederhanaan, Toleransi, dan Kesatuan. Pendidikan Menghidupkan Nilai tidak menekankan perubahan pada aspek pengetahuan dan keterampilan semata namun lebih pada perubahan sikap. Ketika satu sikap positif bisa dikembangkan dan ditularkan maka perubahan pada aspek pengetahuan dan keterampilan akan menjadi lebih mudah diwujudkan.
Pendidikan yang berkeseimbangan tersebut memungkinkan pengembangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang seimbang. Pengembangan fungsi otak kiri yang berkecendrungan pada pola berpikir rasional, logis, linier, dan skuensial. Sedangkan pengembangan fungsi otak kanan berkecendrungan pada pola pikir acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Kedua hal ini harus dikembangkan secara simultan dan seimbang.

a)        Pembelajaran Sains (IPA)
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Pembelajaran IPA di SMP/MTs menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.


b)       Pengembangan pembelajaran nilai dalam Sains
Pengembangan pendidikan nilai dalam pembelajaran sains harus terkait erat dengan hakekat sains itu sendiri. Hakekat sains sebagai proses, produk, dan hasil kreativitas manusia. Sains sebagai sebuah proses akan mengandung nilai-nilai sosial dan moral. Acapkali riset-riset para ilmuwan sains ditangani secara kooperatif dan kolaboratif. Para ilmuwan pun dalam proses penemuannya, senantiasa menghargai temuan sebelumnya, sehingga perkembangan sains berjalan secara vertikal dan maju terus ke depan. Ini semua karena riset-riset yang dilakukan setelahnya memperdalam dan mengembangan riset sebelum yang dilakukan oleh ilmuwan berbeda-beda. Seorang saintis dituntut pula jujur, cermat, dan teliti dalam proses menghasilkan produk sains. Kejujuran sainstis akan diuji oleh serangkaian eksperimen berulang, uji validasi oleh ilmuwan lain, dan uji publik dihadapan para sainstis lainnya.
Sains sebagai sebuah produk mengandung nilai-nilai humanisme dan religius. Produk sains acapkali memberi manfaat yang besar bagi manusia. Sains sebagai hasil kreatifitas manusia, mengandung nilai ilmiah. Produk sains yang berdaya guna dihasilkan dari sebuah proses pengindraan yang cermat terhadap fakta, rasa ingin tahu yang banyak ketika mengindra fakta, rasa ingin meneliti atau menemukan (inquri) untuk memecahkan kesenjangan antara fakta dan rasa ingin tahunya, yang semuanya dilakukan dengan pikiran yang logis, rasional, kreatif, dan kritis.
Dalam konteks school science (sains yang diajarkan di sekolah), nilai-nilai moral, social, religius, dan humanis dari sains harus disumblimasikan dalam jiwa anak ketika belajar sains. Jadi pembelajaran sains bukan sekedar mempelajari rangkaian fakta di alam, tetapi bagimana upaya memperoleh dan memanfaatkan fakta-fakta itu. Upaya memperoleh fakta sains yang penuh nilai curiosity, inquiry, kejujuran, ketelitian, kecermatan, dan kerjasama.
c)      Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran apa adanya tentang implementasi pendidikan nilai dengan menerapan LVEP pada pembelajaran IPA di kelas 8 MTs. Al-Islam Rowoari Kendal. Data yang diperoleh dari penelitian ini merupakan hasil analisis dokumen, dan observasi. Penelitian kualitatif merupakan suatu pendekatan penelitian yang diarahkan pada memahami fenomena sosial dari perspektif partisipan dengan cara wawancara, observasi, dan studi dokumen (Nana Syaodih, 2009). Data yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan data yang berbentuk deskriptif yaitu data berupa ucapan pada saat eksplanasi atau tulisan dari subyek atau obyek penelitian (Sugiyono, 2007).
Subyek penelitian ini adalah siswa siswa MTs. Al-Islam Kendal. Alasan sekolah ini dipilih adalah karena sebagian besar siswa ini juga merupakan santri dari pondok pesantren terpadu Syeikh Ahmad Rifa’I Kendal. Dengan demikian dapat diketahui bahwa siswa-siswa ini menerapkan pendidikan nilai keagamaan yang memang termuat dalam program pendidikan pesantren.
Instrumen yang digunakan berupa lembar Observasi selama 3 kali pertemuan, dokumen RPP, dokumen foto, dan wawancara terhadap siswa. Penelitian ini dilakukan di MTs. Al-Islam Kendal selama bulan April 2012. Materi yang digunakan guru sebagai sarana implementasi LVEP ini adalah Topik cahaya dan Sifat-sifatnya. Kompoenen Living values yang diterapkan adalah Penghargaan terhadap pelajaran IPA, Kerjasama, dan Tanggung Jawab.


PENUTUP
·         KESIMPULAN
Budi Pekerti terdiri dari budi dan pekerti. Budi adalah alat batin sebagai panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Berbudi berarti mempunyai kebijaksanaan berkelakuan baik. Pekerti adalah perilaku, perangai, tabiat, watak, akhlak dan perbuatan. Budi pekerti ialah perilaku kehidupan sehari-hari dalam bergaul, berkomunikasi, maupun berinteraksi anatar sesama manusia maupun dengan penciptanya. Budi pekerti yang kita miliki terdiri dari kebiasaan atau perangai,tabiat dan tingkah laku yang lahir disengaja tidak dibuat-buat dan telah menjadi kebiasaan.
Pendidikan moral dapat disebut sebagai pendidikan nilai atau pendidikan afektif. Dalam hal ini hal-hal yang ingin disampaikan dalam pendidikan moral adalah nilai-nilai yang termasuk domain afektif. Nilai-nilai afektif tersebut antara lain, meliputi: perasaan, sikap, emosi, kemauan, keyakinan, dan kesadaran

pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberi keputusan baik buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehar-hari dengan sepenuh hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar